Disampaikan dalam seminar Dirosah Islamiyah Putri,Simo-Boyolali
Oleh : Ummu Lazwardy Ahmad
- I. MUQODDIMAH
Menjadi seorang muslimah tanpa masalah, mungkinkah ?
Barangkali itulah pertanyaan yang sering muncul dibenak setiap muslimah, ideal memang tapi suatu hal yang mustahil sebab disamping ada kesenangan, kehidupan dunia itu hanyalah sebuah permainan belaka. Allah SWT berfirman didalam surat Al Ankabut : 64
Artinya :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akherat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui “.
Jika kehidupan ini merupakan sebuah permainan, mampukah kita menjadi seorang pemain yang baik, inilah yang menjadi persoalan, maka perlu adanya evaluasi untuk menguji kebenaran dan kesungguhan kita dalam permainan itu, dan kesungguhan itu telah dibuktikan oleh para Nabi dan juga para sahabat Rasulullah SAW, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT didalam firman Nya QS Al Ankabut 2 -3 :
Artinya :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi ?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”
Orang yang mendambakan kehidupan tanpa masalah adalah seorang pemimpi, dan orang yang lari dari masalah adalah pengecut, adapun orang yang bertanggung jawab adalah yang berani menghadapi setiap persoalan yang ada dihadapannya dengan cara bekerja keras untuk memecahkan persoalan itu, kemudian diimbangi dengan kesungguhan, sikap istiqomah dan tawakal kepada Allah SWT, sebab setiap usaha yang dilakukan oleh manusia akan mendapat balasan yang setimpal dari Nya, manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan maka kita wajib ihktiyar dan bersandar hanya kepada Nya, lihat Al Qur’an surat An Najm : 39 – 42 :
Artinya :
- 39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
- 40. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya)
- 41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna
- 42. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (Segala sesuatu )
- II. PROBLEMATIKA YANG SERING DIHADAPI MUSLIMAH DAN GAMBARAN SOLUSINYA
Berbicara tentang problematika kehidupan berarti kiat berbicara tentang kehidupan itu sendiri, sebab setiap upacara, langkah dan gerakan yang kita lakukan bisa menjadi masalah bagi kita, hanya ada beberapa hal yang mungkin dianggap mudah dan tidak dipersoalkan, tetapi ada hal-hal yang dianggap sulit dipecahkan dan itulah yang biasanya dianggap sebagai problem, sedangkan untuk menentukan tingkat kesulitan dari setiap masalah sangat relatif tergantung dari kesiapan masing-masing dalam menghadapi masalah itu, oleh sebab itu pada kesempatan ini kita hanya akan menambah sebagaian kecil dari problamatika tersebut, diantaranya adalah :
- Banyak pemikiran deskruktif (pluralisme, kesetaraan gender )
Bersamaan dengan perkembangan jaman, maka berkembang pula pemikiran-pemikiran yang cenderung menyimpang dari kebenaran. Munculnya berbagai aliran kepercayaan yang mengatasnamakan Islam, nabi-nabi palsu dan tidak ketinggalan pula tuntutan kaum wanita agar memiliki kesetaraan dengan kaum lelaki merupakan contoh kongrit dari penyimpangan itu, Bagaimanakah kita menyikapinya ? Itulah pertanyaan yang biasa muncul, sebenarnya jawabannya sangat mudah namun belum tentu semua orang menyukainya, padahal itulah solusinya yang paling mendasar, “Pelajari Al Qur’an dan As Sunnah dengan seksama kemudian aplikasikan dalam kehidupan nyata, niscaya pancaran cahayanya mampu menyinari hati sehingga kita dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan,” itulah jawabannya sebab sesungguhnya al Qur’an itu merupakan solusinya terhadap segala persoalan hidup yang dihadapi manusia. Syyaihul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya syariat Islam hadir dengan membawa maslahat, dan menyempurnakan , menghapus kerusakan serta menguranginya ,”( Minhajus Sunnah An Nabawiyah 1 / 147)
Orang yang memahami Islam secara kaffah tidak akan mudah terpengaruh dengan berbagai pemikiran yang menyimpang, sebab jiwanya tegak fondasi iman yang kokoh berdasarkan ilmu dan amal yang mapan. Kepada generasi wanita (khususnya generasi muslimah) yang berjuang agar memiliki derajat yang setara dengan laki-laki seharusnya menyadari bahwa sampai kapanpun perjuangan akan sia-sia, sebab hanya ketetapan Allah yang paling adil dan seimbang, masin-masing mendapatkan hak dan kewajiban sesuai dengan kebutuhan, maka bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Allah berfirman QS Ali Imran : 36 dan surat An Nisa : 34
Artinya :
- 36. ….dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan….
- 34. Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri (289) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Telah memelihara mereka (290). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (291), Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu. Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya (292). Sesungguhnya Allah Maha Tingi lagi Maha Besar.
- Lingkungan yang tidak kondusif
Sudah dimaklumi bersama bahwa lingkungan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan, oleh sebab itu setiap muslimah pasti mendambakan lingkungan yang kondusif sesuai dengan syariat agar dapat mengamalkan Islam secara utuh tanpa tantangan yang berarti, namun kenyataan yang dihadapi berbeda dengan apa yang didambakannnya. Kebanyakan dari kaum muslimah berada di tengah masyarakat yang lebih mencintai adat istiadat dari pada syareat Islam, jika keadaannya demikian maka cara menghadapinya harus dengan ilmu, untuk itu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, diantaranya adalah :
- Benteng diri dengan terus meningkatkan kualitas iman kepada Allah, ilmu dan amal, sebab iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, akan bertambah dengan bertambahnya ketaatan dan akan berkurang dengan bertambahnya kemaksiatan.
- Jadilah bagian dari orang yang ikut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang diinginkan dengan menyebar luaskan dakwah Islam, jangan hanya puas menjadi penonton ataupun juri, sebab Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka mau merubah keadaannya sendiri. Lihat QS Ar Ra’ad : 11
- Selektif dalam memilih teman terutama sebagai sahabat meskipun harus dengan cara yang santun sebab merupakan cermin dari keadaan agama seseorang.
- Jalinlah hubungan yang erat dengan orang-orang yang menyambut baik dakwah yang disampingkan dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban sehingga mereka benar-benar merasakan bahwa Islam itu agama yang adil dan seimbang.
- Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, perlu menjalin komunikasi yang efektif dengan semua anggota keluarga sebab tanpa dukungan dan restu mereka kita tidak bisa berbuat banyak, mengingat tanggung jawab utama kita adalah keluarga.
- Banyak tantangan dari berbagai pihak untuk mengamalkan Islam secara kafah.
Manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang mau tidak mau harus berinteraksi dengan sesama. Dari interaksi itu pasti akan dijumpai sikap pro dan kontra, sebab tidak mungkin seseorang memaksakan kehendak kepada orang lain. Tantangan itu biasanya muncul karena adanya sikap kontra dan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena perbedaan keyakinan atau karena kebodohan umat Islam dari ajaran agamanya. Islam itu memang agama yang sempurna, tetapi kebanyakan manusia tidak memahami kesempurnaan itu, disinilah peranan pendidikan dan dakwah diperlukan. Disisi lain disadari ataupun tidak, dengan kemajuan teknologi yang berkembang begitu pesat manusia cenderung senang terhadap sesuatu yang sifatnya instan, kondisi seperti ini membawanya pada suatu sikap banyak mengeluh dan mudah menyerah ketika menghadap kesulitan ataupun tantangan, padahal kita tahu bahwa banyak mengeluh hanya akan menunjukkan kelemahan diri, sedangkan menghindari tantangan bukanlah sikap yang bijaksana, yang harus dilakukan adalah belajar menerima kenyataan hidup dan berani menghadapi tantangan dengan menumbuhkan keyakinan bahwa :
- Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya karena Allah tidak akan membebani seorang hamba melebihi batas kemampuannnya. Lihat Al Qur’an surat Al Baqarah : 286
- Sesudah kesulitan pastilah datang kemudahan, QS Alam Nasyrah: 5-6
- Semakin tinggi tingkat kesulitan yang dihadapi dan semakin banyak pula tantangannya justru akan menjadikan seseorang semakin dewasa, lebih bertanggung jawab dan lebih siap menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang, ibarat pisau semakin sering diasah semakin tajamlah ia
- Allah selalu menyertai kita, di mana dan kapanpun, Dia tidak pernah ngantuk dan tidak pernah tidur, Dia selalu siap mengabulkan doa bagi hamba-hamba Nya yang berdoa kepada Nya, maka sadarkanlah setiap persoalan hanya kepada Nya QS Al Baqarah : 255 dan 186
- Hasrat untuk kuliah atau menikah ?
Banyak hal yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupan ini, padahal kesempatan yang dimiliki sangat terbatas, oleh sebab itu seorang muslimah harus cerdas sehingga mampu menentukan skala prioritas amal dari sekian banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, salah satu contohnya adalah masalah yang biasa dihadapi oleh remaja ketika dihadapkan pada suatu pilihan yaitu : terus kuliah atau menikah ? Pilihan yang cukup berat, sebab hasrat untuk melanjutkan kuliah sangat besar sementara jodoh sudah ada didepan mata, mana yang harus dipilih ? Agar tidak kebingungan perhatikanlah beberapa tips berikut ini :
- Bertanyalah kepada diri sendiri “Apa sebenarnya tujaun hidup ini ?”
- Pertimbangkanlah sisi manfaat dan madzorotnya baik untuk kehidupan dunia maupun akherat, dan pilihlah yang banyak mendatangkan manfaat meskipun harus ada yang dikorbankan
- Jangan kecewakan orang tua, sebab restunya akan menjadi berkah dalam kehidupan sebaliknya murkanya akan menjadi malapetaka di dunia maupun akherat.
- Jangan lupa libatkan Allah dalam mengambil keputusan dengan jalan sholat istikaroh, sebab baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.
- Aktivitas di dalam dan diluar rumah tidak seimbang ( terutama bagi yang sudah menikah )
Seperti yang sudah dikemukakan diatas, bahwa harus ada prioritas amal agar terciptanya keseimbangan dalam beraktivitas, disamping itu dibutuhkan manegemant yang baik agar aktivitas yang dilakukan dapat membuahkan hasil yang maksimal terutama bagi muslimah yang memiliki perang ganda, bagaimana mestinya ?
- Jangan ada waktu terbuang dengan sia-sia, sebab diantara bukti baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya Lihat QS Al Mu’minun : 3
- Biasakan tenang dalam menghadapi setiap persoalan, sebab ketenangan jiwa akan membawa seseorang untuk berfikir dan bertindak secara efektif Ketenangan itu haya bisa diraih dengan banyak berdzikir kepada Allah SWT Lihat QS Ar Ra’d: 28
- Setelah menentukan skala prioritas amal, dan imbangi dengan kedisiplinan, jangan suka menunda pekerjaan yan bisa dikerjakan saat itu.
- Atur aktivitas dengan baik, sesuaikan dengan waktu yang dimiliki, sehingga dalam satu rentang waktu dapat mengerjakan beberapa aktivitas.
- Jadilah orang yang cerdik didalam membaca titik lemah diri, sehingga tidak terjebak pada titik kejenuhan.
- Sadarilah bahwa kelak kita akan menemui semua kebaikan yang pernah kita perbuat, ibarat petani semakin banyak menanam, semakin banyak pula yang diketam, maka jadikanlah dunia ini sebagai ladang untuk bercocok tanam.
- III. BEBERAPA CONTOH DARI MASALAH YANG SERING DILANDA MUSLIMAH PADA JAMAN RASULULLAH SAW DAN PEMECAHANNYA
Problematika kehidupan itu bukan hanya dihadapi oleh manusia dimana sekarang, namun sudah ada sejak Nabi Adam as termasuk orang-orang yang hidup pada jaman Nabi Muhammad SAW. Berikut ini adalah contoh dari permasalahan yang dihadapi oleh muslimah pada jaman Rasulullah SAW dan cara mereka dalam mengatasi permasalahan tersebut.
- Langsung menikah meskipun belum bisa bersatu, atau cukup dengan tunangan ?
Itulah permasalahan yang dihadapi oleh Ummul Mu’minin Aisyah Rasulullah menikahi pada usia yang masih belia – usia kanak-kanak – untuk kehidupan sekarang yaitu enam tahun, kemudian pada usia sembilan tahun beliau baru menggaulinya, artinya menikah dahulu tanpa tunangan, meskipun belum memungkinkan bersatu, bukan bersatu dahulu karena sudah tunangan, meskipun belum memungkinkan bersatu, bukan bersatu dahulu karena sudah tunangan, meskipun belum menikah seperti kebanyakan yang terjadi pada masa sekarang.
- Hadiah budak lewat, yang didapat nasehat . Siapa yang tidak mengenal Fatimah putri Rasulullah SAW, dan istri dari Ali bin Abi Tholib ini, suatu ketika Fatimah menghadap Rasulullah SAW yang tidak lain adalah ayahanda tercinta untuk mendapatkan hadiah seorang budak yang dapat meringkankan sebagian dari pekerjaannya, ketika keinginan itu diungkapkan, maka jawaban Rasulullah SAW adalah “Wahai putriku maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang bila kamu kerjakan nilainya jauh lebih tinggi dari apa yang kamu minta ? Fatimah menjawab :”Baik ya Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda :”Sebelum kamu tidur bacalah tasbih 33 kali, takbir 33 kali dan tahmid 33 kali” Dengan lapang dada Fatimahpun pulang dan mengamalkan nasehat itu, meskipun budak yang diharapkannya tidak didapat
- Mempertahankan tauhid atau menerima lamaran perjaka yang ganteng lagi kaya raya ? Umu Sulaim adalah seorang janda dengan satu anak yaitu Anas bin Malik, karena keteguhan iman yang dimilikinya dia berani menolak lamaran dari seorang perjaka dari keturunan bangsawan yang sangat ganteng dan kaya raya disebabkan karena perbedaan keyakinan. Namun karena keteguhan hatinya itu justru membuat Abu Tholhal luluh dan akhirnya masuk Islam, dan syahadat itulah yang menjadi mahar bagi Umu Sulaim.
Dari pembahasan yang saya paparkan diatas semoga dapat ditarik kesimpulan untuk dijadikan sebagai pelajaran bagi kita dalam menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Satu hal yang perlu saya tegaskan adalah sejauh apapun kita menghindari masalah akan terus datang silih berganti dan tanpa kompromi, maka lebih baik jika kita dapat belajar menerima kenyataan hidup dengan berusaha keras untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang datang kepada kita, sebab setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan kata kuncinya hanya satu yaitu taqwa, selama kita menjadi insan yang bertaqwa maka Allah akan memberikan jalan keluar kepada kita terhadap masalah yang kita hadapi. Allah berfirman di dalam surat Ath Tholaaq: 2-3
Artinya :
- 2. …. barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan jalan keluar.
- 3. Dan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Menjadi insan bertaqwa dan bertawakal kepada Allah memang tidak mudah, maka segala daya dan kekuatan harus dikerahkan untuk mewujudkannya agar Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapai. Wallahu a’alam bis Showab.
Like this:
3 bloggers like this post.